Label

Jumat, 26 Februari 2010

Dunia Tanpa Cinta ( bagian 1)

Where is my school ?


Hari itu adalah hari yang sangat penting dalam hidupku. Hari yang akan menentukan nasibku untuk tiga tahun kedepan. Bukan hanya aku saja tapi semua teman-temanku yang baru menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama. Mereka juga tengah sibuk mencari Sekolah yang terbaik untuk mereka. Sama halnya dengan diriku. Mungkin hampir semua orangtua yang anaknya baru saja lulus dari Sekolah Menengah Pertama berkumpul untuk mengetahui pengumuman penerimaaan siswa baru. Datang dengan harapan agar anaknya dapat diterima di salah satu sekolah favorit di Tangerang yang juga menjadi favoritku. Sekolah Menengah Atas Negri 5 Tangerang. Mereka sudah menunggu dari pagi untuk mengetahui hasil pengumuman penerimaan siswa baru.
Berbeda dengan anak-anak yang lain, mereka di dampingi orang tua mereka untuk mengambil surat hasil dari pengumuman penerimaan siswa baru. Tapi tidak dengan diriku, Bapakku tidak bisa menemaniku, karena beliau harus pergi untuk berdagang. Sedangkan ibuku harus bekerja di sebuah Pabrik Garment di kawasan Industri di dekat kampungku.

Aku sangat berharap bisa menjadi salah satu siswa di sekolah yang sangat kuinginkan semenjak aku kelas 6 SD itu. Selain sekolah ini berstatus sekolah negeri, Sekolah ini juga salah satu SMA Negeri yang dekat dengan rumahku. Karena orangtuaku ingin aku bersekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah untuk menghemat ongkos dan tentu saja uang saku. Karena tidak perlu membawa uang lebih.

Hasil dari pengumuan dibagikan sesuai nomor formulir pada saat pendaftaran. Masing-masing nomor pun dibagi-bagi dalam beberapa kelompok. Kelompok yang pertama dengan nomor pendaftaran 0001 sampai dengan 0200 berada di ruang kelas pertama yang bersebrangan dengan Kantor Sekolah. Sedangkan kelompok kedua dengan nomor 0201 sampai dengan 0400 terletak disamping ruang kelas yang pertama, begitu seterusnya. Karena nomor formulir pendaftaranku 0999 aku mendapat ruang yang berada di ditengah-tengah ruang-ruang kelas yang lain. Di depan kelas itu banyak di tanami pepohonan sehingga udara disitu sangat sejuk.

Aku berdiri di depan ruang kelas yang berada di pinggir sebuah lapangan upacara. Aku memandang jauh ke lapangan. Di tiap-tiap ujung lapangan terdapat dua buah ring basket dan tepat didepan ruang kelas tempatku berdiri ada sebuah tiang berukuran kecil berwarna putih yang menjulang tinggi ke atas dan terikat seutas tali yang telah tersambung dengan kain. Kain berwarna merah putih itu menari-nari laksana ombak di laut. Meliuk-liuk tertiup angin.

Aku terus memandangi lingkungan sekitar itu sambil berkhayal bahwa aku kelak akan mengikuti upacara bendera di sekolah ini. Berdiri di barisan paling depan. Mendengar pidato dari kepala sekolah. Ketika aku berada dalam khyalanku muncul seorang laki-laki paruhbaya sambil membawa tumpukan map menuju ruang kelas yang berada di belakangku. Para orang tua yang telah menunggu di depan kelas dipersilahkan masuk oleh Bapak yang mengenakan kacamata itu. Akupun ikut masuk kedalam ruang kelas dan duduk dikursi dekat pintu masuk. Bersama orangtua yang lain kami mendengarkan hasil pengumuman tersebut. Dan setelah bebasa-basi sebentar Bapak itu langsung membagikan map berwarna merah itu sesuai nomor yang tertera di depan map. Begitulah hasil pengumumannya dibagikan, dan aku terus berdo’a di dalam hatiku agar aku bisa masuk sekolah ini,sekolah yang kubanggakan.

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya nomorku di panggil. Bapak yang memakai kacamata itu memberikan sebuah map berwarna merah yang di halaman depannya bertulisakan “PANITIA PENERIMAAN PESERTA DIDIK TAHUN PELAJARAN 2002/2003 SMA NEGRI 5 TANGERANG” itu kepadaku. Di dalamnya hanya ada selembar kertas berisi pengumuman penting yang kutunggu-tunggu. Aku tak sabar ingin segera membuka map tersebut. Setelah kudapat dari Bapak itu, aku berjalan menjauhi kerumunan orang banyak yang tengah menunggu nomor calon peserta didik mereka dipanggil.

Aku tidak langsung pulang ke rumah karena aku sangat penasaran dengan hasil pengumumannya. Setelah kubuka map itu dan melihat hasilnya tubuhku terkulai lemas, pikiranku melayang entah kemana, kakiku sepertinya tak sanggup berjalan dan hatiku hancur mengetahui apa yang telah kualami. Rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Berteriak sekencang-kencangnya, memukul benda apapun yang ada didepanku tempat sampah, tembok, pohon-pohonan apapun itu. Sehingga terlampiaskan amarah dan rasa kecewaku.

Aku masih belum mempercayai hal ini, semua hanya karena sebuah map berwarna merah yang didalamnya terdapat secarik kertas yang menetukan nasibku untuk tiga tahun mendatang. Rasanya ingin kurobek-robek kertas ini, kuremas-remas dan kubuang. setelah tiga tahun kudambakan dan kuimpikan, semenjak aku masih duduk di kelas 6 SD aku sangat menginginkan untuk bisa masuk sekolah favoritku ini yaitu SMA Negri 5.
Semilir angin yang berhembus kini tiba-tiba berubah arah, pepohonan yang terlihat, semuanya menggugurkan daun mereka yang kering. Dedaunan itu terbang meninggalkan pohonnya, pergi menjauh dari ibu yang telah melahirkan dan mengasuhnya. Meninggalkan saudara-saudara mereka yang masih hijau. Terbang jauh terbawa angin yang berhembus. Terbang hingga tak terlihat lagi olehku. Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Menggetarkan hatiku menusuk jantungku, lalu memupuskan semua harapanku, hanya karena selembar kertas yang berisi bahwa nilaiku tidak memenuhi syarat untuk menjadi siswa SMA Negeri itu. Aku memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, NEM-ku hanya 33,86 sedangkan SMA favoritku menerima NEM minimal 35,24. Hanya berbeda beberapa angka saja memang, tapi itu bisa menentukan nasibku untuk 3 tahun.
Selama ini aku sudah berusaha semampuku, belajar siang malam, membaca buku, hingga akhirnya di kelas 3 aku selalu menjadi juara, meskipun hanya juara dua. Tapi ternyata semua itu bukan jaminan untuk bisa masuk sekolah impianku ini, karena semua itu ditentukan angka-angka. Angka-angka yang harus kau raih dengan berusaha sekuat tenaga dan dengan kemampuanmu sendiri.

Sebenarnya bisa saja angka-angka itu dibeli. Ya.. di beli dengan uang tentunya. Di beli oleh para orangtua yang memiliki kelebihan harta. Orangtua yang menginginkan anak mereka bersekolah di sekolah yang terkenal, sekolah yang dapat menunjang bagi masa depan bagi anak-anak mereka. Dan mereka rela mengeluarkan uang lebih untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah Negeri. Meskipun angka-angka anak mereka tidak memenuhi syarat untuk masuk SMA Negeri favorit.

Tapi aku? Aku hanyalah anak seorang pedagang buah dingin keliling dan anak seorang buruh pabrik. Tak akan mampu orangtuaku membeli angka-angka itu dan mereka pun takkan sudi memasukanku ke sekolah dengan ‘jalur belakang’ seperti itu. Lagipula aku tak ingin merepotkan kedua orangtuaku. Jika memang tidak bisa masuk SMA Negeri itu ya sudah masih ada banyak sekolah lain. Meskipun kecewa, aku berjanji pada diriku sendiri untuk 3 tahun kedepan ini aku harus melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Kali ini aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan masa terakhirku di bangku sekolah. Kali ini aku ingin bersungguh-sungguh untuk mewujudkan semua impianku. Entah dimanapun aku sekolah, aku harus mempunyai mimpi-mimpi. Karena hanya mimpi-mimpilah yang membuatku hidup.

Akhirnya aku membawa kertas itu dan segera pulang untuk membeitahukan kepada orangtuaku sekaligus berpikir untuk mencari SMA alternatif. Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan ingin masuk ke sekolah mana? Karena orangtuaku ingin aku sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah, maka yang terlintas di otakku adalah SMK Bhakti Pertiwi. Memang sekolah itu adalah sekolah yang letaknya paling dekat dengan rumahku, jaraknya hanya lima puluh meter dari rumah. Jadi aku tak perlu repot-repot minta uang jajan dan ongkos. Istirahat pun tinggal pulang ke rumah dan makan, bahkan bel sekolah pun terdengar dari rumahku. Tetapi aku sendiri mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi aku ingin mencari Sekolah Menengah Umum bukan Sekolah Menengah Kejuruan ataupun Sekolah Menengah Ekonomi Atas apalagi Sekolah Teknik Mesin. Semua kulakukan untuk memudahkanku dalam pengambilan jurusan saat di bangku kuliah.

Sebenarnya aku sudah tidak memiliki bayangan akan masuk sekolah mana setelah gagal diterima di sekolah favoritku. Aku hanya tahu beberapa Sekolah Menengah Atas swasta yang berada di daerah Perum. Diantaranya SMA Nusantara, SMA Nusa Putera, dan SMA PGRI 109. Selain itu aku tidak tahu lagi. Sebelum aku pulang kerumah, aku mencoba mendaftar ke SMA Nusantara yang kebetulan letak sekolah itu berada tidak jauh dari SMA Negeri 5. Aku berjalan kaki sekitar lima menit dari SMA Negeri 5. Aku ingin mencari tahu apakah sekolah itu masih menerima siswa atau tidak. Karena minggu ini adalah gelombang terakhir penerimaan siswa baru yang mana biaya masuk sekolah semakin mahal dibandingkan dengan gelombang pertama saat penerimaan.

Sesampainya di sana aku mengambil brosur yang berisi mengenai fasilitas dan rincian biaya masuk sekolah. Aku terkejut begitu melihat rincian biayanya, sepertinya Nusantara adalah salah satu sekolah elit di wilayah Perumnas 1. Terbukti dengan mahalnya uang gedung, uang SPP, Seragam dan biaya-biaya lainnya. Sudah dipastikan orangtuaku tak akan sanggup membayar semua biaya tersebut. Ditambah lagi jika menjelang ujian pasti akan mahal biaya ujian-ujiannya. Akhirnya aku membuang niatku untuk masuk sekolah tersebut. Dan berpikir untuk mencari sekolah-sekolah alternatif lain.

Berbeda dengan orang lain yang telah mempersiapkan diri dan mendaftar disekolah cadangan mereka jika takut-takut mereka tidak diterima di sekolah yang mereka inginkan. Aku tidak mendaftar ke sekolah lain karena aku optimis bisa masuk ke SMA Negeri Favoritku. Dan pada akhirnya aku bingung ingin ke sekolah mana. Sekarang sudah gelombang akhir, Sabtu ini liburan panjang akan berakhir dan hari Seninnya Tahun Ajaran Baru dimulai. Tetapi aku masih bingung mencari-cari sekolah. Setelah dari SMA Nusantara aku pulang kerumah. Beristirahat sebentar, makan siang, setelah itu tujuanku selanjutnya adalah ke SMA Nusa Putera. Sekolah alternatifku yang kedua.
Tiba di sekolah yang berada tepat di pinggir jalan itu aku langsung masuk melewati pintu gerbang. Dan pergi ke kantor dan menanyakan apakah di sekolah ini masih menerima siswa dan berapa biaya masuknya. Ah… lagi-lagi aku gagal. Sekolah itu sudah itu tidak menerima murid lagi dikarenakan jumlah siswanya sudah terlalu banyak dan tidak bisa menampung murid lagi. Tetapi seorang Bapak yang sepertinya guru di sekolah itu menyarankanku untuk mencoba di SMA Pribadi. Tapi karena baru kali ini aku mendengar sekolah itu dan aku tidak tahu dimana sekolah itu akhirnya aku pergi begitu saja tanpa memperdulikan perkataan Bapak itu karena pikiranku teralihkan oleh sekolah alternatifku yang terkhir. SMA PGRI 109.

Begitu tahu disana sudah tidak menerima murid lagi, aku langsung menuju ke SMA PGRI 109 yang berada tidak jauh dari SMA Nusa Putera. Setelah tiba disana aku juga mendapat keterangan yang sama dengan yang kudapat dari SMA Nusa Putera. Sekolah itu juga sudah tidak ada penerimaan murid lagi. Tubuhku pun langsung lemas mendengar hal tersebut. Aku yakin sebenarnya masih bisa masuk sekolah itu dengan membayar biaya tambahan. Tapi aku juga tahu orangtuaku tak akan bisa membayar biaya tambahan itu.
Matahari yang sejak pagi menemaniku pun perlahan-lahan pergi meninggalkanku. Ia pergi untuk menerangi belahan bumi yang lain. Ia telah menyelesaikan tugasnya hari ini dengan baik. Menyinari bumi ini dengan penuh kehangatan dan sekarang ia menuju ufuk barat. Aku pulang dengan rasa hampa dan kecewa. Tak dapat satu pun sekolah terdekat yang masih membuka pendaftaran. Akhirnya kuputuskan saja pulang ke rumah dan membicarakannya bersama orangtuaku malam nanti.

***

Menjelang malam tiba, saat semua keluargaku berkumpul akhirnya kami semua membicarakan masalah ini. Akupun mulai menjelaskan kepada mereka mengenai tidak diterimanya aku di SMA Negeri favoritku dan sekolah-sekolah swasta lain yang sudah tidak menerima murid lagi. Aku juga menjelaskan akan mahalnya biaya masuk sekolah saat ini karena telah memasuki gelombang terakhir penerimaan siswa baru sekaligus akan dimulainya masa Tahun Ajaran Baru. Begitu juga hari pertama masuk sekolah sudah tinggal beberapa hari lagi. Namun aku belum memliki bayangan sekoah mana yang akan menjadi sekolahku. Dan akhirnya ibuku menyarankanku untuk sekolah di SMA ‘Paket Khusus’ Merdeka.

SMA Merdeka adalah sekolah alternatif yang menjadi pilihan ibuku dan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Sekolah yang memang terletak tidak jauh juga dari rumahku. Berada di belakang SDN Karawaci 6, Sekolahku waktu SD, dan berada satu gedung dengan SDN Karawaci 8 atau memang satu gedung dengan Sekolah Dasar itu? Setahuku memang tidak ada SMA disana. Ibuku pun menjelaskan kalau SMA Merdeka adalah Sekolah Menengah Paket Khusus yang hanya diadakan malam hari. Aku pun bingung. Apakah ada sekolah malam hari? Karena ini kali pertamanya aku mendengar sekolah malam hari. Kalau kuliah malam hari mungkin aku tahu tapi ini… Ibuku melanjutkan penjelasannya dan dari apa yang di jelaskannya aku menangkap bahwa ternyata sekolah itu adalah sekolah paket B dan paket C. Sekolah yang memang khusus diadakan untuk mereka yang mengejar ijazah dan tidak bisa masuk sekolah umum yang lain. Selain karena mereka sudah tertinggal juga karena mereka memang telah bekerja dan sudah memiliki keluarga. Oleh karena itulah Sekolah itu di katakan sekolah paket khusus yang memang diadakan di malam hari. Merasa tidak ada pilihan lain akhirnya orangtuaku memutuskan untuk menyekolahkanku di Sekolah Paket Khusus itu.

Karena tidak ingin membuang-buang waktu, sekitar pukul setengah delapan malam aku dan ibuku berangkat menuju sekolah itu. Setelah berjalan selama sepuluh menit kami pun tiba di pintu gerbangnya. Suasana disekolah malam hari sangat sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan saja. Hanya ada beberapa ruang kelas yang lampunya menyala. Kami pun melangkah menuju ke ruang kelas yang berada paling pojok itu. Ternyata ruang yang lampunya menyala itu bukanlah ruang kelas melainkan kantor sekolah.

“Assalamu ‘alaikum..” kata ibuku yang telah berada di depan pintu masuk.

“Wa ‘alaikum salam” Jawab seseorang laki-laki bersama seorang bapak yang sedang duduk sambil menonton Televisi didalam ruangan tersebut. “Silahkan masuk..” Katanya lagi.

Laki-laki yang satu berpakaian rapi. Mengenakan kemeja garis-garis berwarna abu-abu dan bertubuh pendek dan agak tambun. Dilihat dari penampilan dan cara berpakaian sepertinya orang itu adalah guru atau salah satu staff di sekolah ini. Sedangkan laki-laki yang satunya terlihat kusam, mengenakan kaos oblong biasa berwarna merah yang telah pudar.

“Begini Pak…”kata ibuku mula-mula. “Saya ingin mendaftarkan anak saya disekolah Paket ini. Apakah masih ada penerimaan murid baru?”. Tanya ibuku.

“Oh, iya bu !” jawab Bapak itu.”Di sekolah ini memang masih membuka pendaftaran bagi siswa baru. Ibu mau mendaftar?”

“Iya, saya ingin mendarftarkan Putera saya ini.”Jawab ibuku.

“Putera ibu yang ini?” Kata Bapak itu sambil menunjuk diriku yang sedang berdiri di samping ibuku dan sepertinya ia terlihat agak terkejut. “Memang anak ibu usianya berapa?”

“ Enam belas tahun, Pak! Baru saja lulus SMP.”

“Hah?” Bapak itu semakin terkejut begitu ibuku menyebutkan usiaku. Kemudian ia berkata lagi ”Memangnya ibu tidak mendaftarkan anak ibu ke sekolah-sekolah umum yang lain?”

“Sudah, Pak! Tapi kebanyakan sekolah-sekolah itu sudah tidak bisa menerima murid baru lagi. Karena tidak bisa menampung lebih banyak murid.”

“Begini, bu..!” Bapak itu menjelaskan. “Sekolah ini adalah Sekolah Paket yang dikhususkan bagi para orang tua yang sudah tidak bisa masuk sekolah umum yang lain, dan sekolah ini bertujuan membantu mereka untuk meneruskan sekolahnya kembali yang sempat terputus karena mungkin pada saat mereka lulus SMP tidak bisa melanjutkan ke tingkat SMA karena masalah biaya dan atau mereka telah bekerja. Sekaligus memberi kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan ijazah SMA dan pendidikan yang setara. Dan biasanya, para siswa kami adalah orang–orang yang telah bekerja bahkan ada yang telah memiliki keluarga. Selain itu materi pelajaran yang diberikan pun agak berbeda dengan sekolah-sekolah lain pada umumnya, dikarenakan sekolah ini hanya untuk menyetarakan dengan Sekolah Menengah Atas yang lain. Jika anak ibu masuk sekolah ini saya rasa kurang cocok.”

“ Oh..begitu. Tapi, apa tidak bisa anak saya masuk sekolah ini? Karena saya ingin dia membantu Bapaknya berdagang pagi hari dan malam harinya sekolah. Begitu maksud saya”

“ Maaf, bu! Untuk itu kami tidak bisa memasukan anak ibu ke sekolah kami. Karena salah satu persyaratan masuk sekolah ini adalah calon siswa adalah orang yang telah berusia delapan belas tahun atau lebih. Lagipula jika anak ibu masuk sekolah ini akan mempengaruhi perkembangan sosialnya. Saya rasa masih ada banyak sekolah yang masih membuka pendaftaran sampai Tahun Ajaran Baru dimulai. Coba ibu bertanya kepada teman atau tetangga mungkin ada yang bisa membantu ibu. Sekali lagi saya minta maaf..”. Setelah si Bapak berkata itu kami pun pergi meninggalkannya.

Aku menjadi semakin bingung karena sekolah yang menjadi alternatif ibuku pun menolakku untuk sekolah disitu. Dalam perjalanan pulang ibu tidak mengatakan sepatah katapun, tetapi terlihat jelas dari raut wajahnya menunjukan bahwa ia sedang bingung sama dengan diriku. Aku dapat memahami kegelisahan ibu, tetapi aku tidak bisa mengatakan apapun untuk menghiburnya. Sepertinya memang tidak ada jalan lain selain aku masuk salah satu sekolah yang memang sesuai untukku. Meskipun dengan biaya yang mahal, dan itu berarti ibuku harus meminjam uang kepada orang lain untuk membiayai sekolahku. Itulah yang kubaca dari raut wajah ibu.

Malam belum lagi larut, kami melewati jalan-jalan sempit dibelakang sekolah mencari jalan pulang. Setahuku memang ada jalan kecil yang tembus menuju ke jalanan ke kampung kami. Memang jalan ini agak sedikit berbeda dengan jalanan yang kulewati saat aku masih SD dulu. Pohon Jambu yang berada disamping gedung sekolahku kini sudah di tebang. Cat-cat gedung sekolahnya pun telah diperbaharui dan mulai dibangun kembali. Hanya diterangi beberapa lampu rumah yang menyala dan juga sinar rembulan akhirnya kami menemukan jalanan yang menuju ke kampung.

Ditengah perjalanan kami bertemu dengan teman seangkatan sekaligus teman kelasku di SMP. Namanya Iin Kurniasih. Ia tengah mengobrol dengan ibunya di teras depan rumah. Kami pun mampir sebentar sekaligus silaturrahmi. Saat kami mengobrol aku pun menanyakan ia masuk sekolah mana? “SMA Pribadi” jawabnya singkat. Aku sempat terkejut saat ia mengatakannya, hebat betul temanku ini bisa mempunyai sekolah Pribadi. Temanku ini hanya tertawa melihat keherananku. Ia lalu menjelaskan bahwa SMA Pribadi adalah nama salah satu SMA swasta di Tangerang. Dan ia menjelaskan lagi bahwa sekolah itu masih membuka pendaftaran siswa baru dan biaya masuknya pun tergolong murah. Sungguh… baru kali ini aku mendengar sekolah yang namanya SMA Pribadi. Tetapi tak ada salahnya jika aku mencoba datang dulu kesana. Akupun segera meminta alamatnya. Tak lama kami pun pamit ingin pulang.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar